SURVEI DAN PENGUMPULAN DATA PENEMUAN KASUS DAN PEMANTAUAN PENGOBATAN TB DI TEMPAT KHUSUS (PONDOK PESANTREN) DI WILAYAH KAB. BOGOR PROV. JAWA BARAT

Bogor, 17 – 20 April 2018

A. Latar Belakang

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia, sehingga menjadi komitmen global dan nasional. Sebanyak 2 Milyar orang di dunia mempunyai Mycobacterium tuberculosis di dalam tubuhnya, 10 persennya atau kurang lebih 200 juta orang akan menderita TB aktif, 3 juta orang diantaranya akan meninggal dunia. Di Indonesia, TB merupakan indikator keberhasilan MDG (Millenium Development Goals) yang harus dicapai oleh Indonesia, yaitu menurunnya angka kesakitan dan kematian menjadi setengahnya di tahun 2015 dibanding dengan tahun 1990. Angka prevalensi TB yang tahun 1990 sebesar 443 per 100.000 penduduk, pada tahun 2015 ditargetkan turun menjadi 222 per 100.000 penduduk. Pada tahun 2009 angka tersebut adalah 244 per 100.000 penduduk. Sementara angka kematian TB pada tahun 1990 sebesar 92 per 100.000 penduduk, pada tahun 2009 telah turun menjadi 39 per 100.000 penduduk.

Case Detection Rate (CDR)  provinsi layanan BBTKLPP Jakarta tahun 2014 yaitu DKI 254 per 100.000 penduduk,  Jawa Barat 141 per 100.000 penduduk , Banten 132 per 100.000 penduduk, Kalimantan Barat 120 per 100.000 penduduk , dan Lampung 106 per 100.000 penduduk . Data Kasus BTA Positif baru di Provinsi Banten tahun 2014 berjumlah 4.688 kasus, DKI Jakarta sebesar 8.452 kasus, Jawa Barat sebesar 31.469 kasus, Kalimantan Barat 4.265 kasus, dan Lampung sebesar 5.109 kasus. (Pofil Kesehatan Indonesia thaun 2014, Pusadatin Kemenkes RI). Tiga Kabupaten/Kota terbesar di Provinsi Jawa Barat dengan CNR terbesar adalah Kota Cirebon, Kota Sukabumi, dan Kota Bandung, sedangkan untuk tiga terbesar TB MDR adalah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bogor.

Kejadian TB tidak hanya terjadi di masyarakat umum tapi juga di populasi khusus sehingga peran pelaksanaan public private mix (PPM) yang mudah diakses oleh populasi khusus tersebut sangat penting dalam temuan kasus TB. Public private mix (PPM) tersebut diantaranya Fasilitas kesehatan lingkungan TNI dan POLRI, B/BKPM, dokter praktik swasta, perusahaan dengan fasilitas layanan kesehatan, LSM, dan pelayanan kesehataan di Pondok-pondok pesantren.

BBTKL PP Jakarta sebagai salah satu unit pelaksana Kementerian Kesehatan RI yang bertanggung jawab kepada Dirjen PP dan PL, dengan wilayah layanannya meliputi DKI Jakarta, Banten, Banten, Lampung dan Kalimantan Barat, sesuai tupoksinya mempunyai peran melakukan surveilans temuan kasus baru di pondok pesantren di wilayah Kabupaten Bogor tahun 2018. Jenis desain surveilans ini adalah pemilihan 2 pesantren modern dan 2 pesantren duafa dari 209 pesantren. Screening dilakukan pada  adalah semua penduduk pesantren pada usia 15-24 tahun yang telah mondok minimal 1 tahun di Ponpes tersebut.

B. Hasil Survei

  • Tanggal 17 April 2018 dilaksanakan kegiatan :
    • Koordinasi teknis dengan pihak Puskesmas dan pengelola Pondok Pesantren Ummul Quro tentang metode survei
    • Pelaksanaan screening TB dengan metode wawancara terstruktur menggunakan instrumen quesioner di kelas persiapan untuk santri perempuan dan laki-laki
    • Pengumpulan dahak sewaktu suspek TB  kelas persiapan
    • Pelaksanaan wawancara pengetahuan dan sikap pada responden suspek TB dan responden acak dengan menggunakan instrumen quesioner
    • Pelaksanaan pengukuran udara ruang dan observasi lingkungan 2 asrama santri perempuan

 

  • Tanggal 18 April 2018 dilaksanakan kegiatan :
    • Pelaksanaan screening TB dengan metode wawancara terstruktur menggunakan instrumen quesioner di kelas 1 untuk santri perempuan dan laki-laki
    • Pengumpulan dahak sewaktu suspek TB  kelas 1
    • Pengumpulan dahak pagi  suspek TB  kelas persiapan
    • Pelaksanaan wawancara pengetahuan dan sikap pada responden suspek TB dan responden acak dengan menggunakan instrumen quesioner
    • Pelaksanaan pengukuran udara ruang dan observasi lingkungan 5 asrama santri laki-laki

 

  • Tanggal 19 April 2018 dilaksanakan kegiatan :
    • Pelaksanaan screening TB dengan metode wawancara terstruktur menggunakan instrumen quesioner di kelas 2 untuk santri perempuan dan laki-laki
    • Pengumpulan dahak sewaktu suspek TB  kelas 2
    • Pengumpulan dahak pagi  suspek TB  kelas 1
    • Pelaksanaan wawancara pengetahuan dan sikap pada responden suspek TB dan responden acak dengan menggunakan instrumen quesioner
    • Pelaksanaan pengukuran udara ruang dan observasi lingkungan 3 asrama santri Perempuan

 

  • Tanggal 20 April 2018 dilaksanakan kegiatan :
    • Pengumpulan dahak pagi  suspek TB  kelas 2
    • Pelaksanaan wawancara pengetahuan dan sikap pada responden suspek TB dan responden acak dengan menggunakan instrumen quesioner

 

  • Hasil survei :
    • 39 suspek Tb telah menyerahkan sampel dahak sewaktu dan dahak pagi lengkap
    • 4 suspek Tb hanya menyerahkan sampel dahak sewaktu
    • 67 quesioner hasil wawancara responden
    • 10 quesioner observasi lingkungan
    • 5 asrama perempuan dan 5 asrama laki-laki telah dilakukan pengukuran udara ruang

 

 

 C. Rencana Tindak lanjut

  • Sampel Dahak akan diperiksa secara mikroskopis dan bila ada yang positif akan dilakukan kultur
  • Sampel dahak yang positif secara mikroskopis akan dilaporkan ke pihak Puskesmas untuk dilakukan pengobatan TB
  • Quesioner hasil wawancara dan obresvasi akan diolah secara statistik
  • Quesioner obeservasi akan dilaporkan secara deskriptif
  • Laporan lengkap akan disusun setelah survei 2 dan 3 terlaksana