PENYUSUNAN MODUL PELATIHAN KECACINGAN

26 Juni 2018

A. PENDAHULUAN
1. Umum
Cacingan adalah salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, diantaranya adalah cacingan yang ditularkan melalui tanah. Cacingan yang ditularkan melalui tanah adalah Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), Ancylostoma duodenale (cacing tambang), dan Necator americanus (cacing tambang). Penyakit ini berdampak pada penurunan kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan, dan produktifitas penderita serta berpengaruh terhadap produktifitas penderita sehingga secara ekonomi terjadi kerugian terhadap ekonomi.
Cacingan dapat mempengaruhi asupan, pencernaan, penyerapan, dan metabolisme makanan. Hal ini menyebabkan penderita cacingan mengalami kehilangan karbohidrat, protein, dan darah sehingga berdampak terjadi penurunan kualitas sumber daya manusia. Selain menghambat perkembangan fisik, kecerdasan, dan produktifitas kerja, cacingan dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. Kerugian lain akibat infeksi cacing telah dihitung berdasarkan efek dari cacingan. Disability Adjusted Life Years (DALYs) merupakan suatu metode matematika yang menghitung kehilangan waktu produktif yang disebabkan oleh infeksi cacing. DALYs dapat dihitung dengan memperkirakan beberapa konsekuensi dari penyakit cacingan yaitu kondisi fisik yang lemah dan angka kehadiran masuk sekolah yang rendah.
Lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% penduduk dunia terinfeksi cacing usus. Penyebaran infeksi terjadi secara meluas di daerah tropis dan sub tropis denga jumlah terbesar terjadi di sub Sahara Afrika, Amerika, Cina, dan Asia Timur. Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah dan lebih dari 600 juta anak usia sekolah tinggal di daerah endemis. Estimasi dari WHO hingga tahun 2017, lebih dari 880 juta anak membutuhkan pengobatan cacingan. WHO merekomendasikan pengobatan tahunan di daerah dengan prevalensi cacingan 20-50% dan pengobatan setahun dua kali pada daerah dengan prevalensi cacingan diatas 50%. Di Indonesia, prevalensi cacingan rata-rata nasional adalah 28,12% dengan prevalensi tertinggi berada di Kabupaten Pesisir Selatan, Propinsi Sumatera Barat sebesar 85,9%.
Unluk menanggulangi cacingan, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 15 tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan. Berdasarkan permenkes tersebut, maka perlu dilakukan penanggulangan cacingan melalui kegiatan surveillan cacingan dalam bentuk kegiatan Survei Prevalensi Cacingan. Untuk memperoleh keseragaman dalam melaksanakan survei prevalensi kecacingan, perlu dilaksanakan pelatihan survei prevalensi kecacingan. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan tercipta tenaga surveyor pelaksanaan prevalensi kecacingan yang kompeten. Modul pelatihan ini dibuat sebagai pedoman dalam pelaksanaan pelatihan survei prevalensi kecacingan.
BBTKLPP Jakarta merupakan unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal P2P memiliki komitmen untuk melakukan lintas sektor dalam upaya mengendalikan dan memberantas penyakit menular yang ada di Indonesia. Salah satu perwujudan komitmen tersebut adalah BBTKLPP Jakarta turut berperan serta dalam kegiatan Survei Prevalensi Cacingan yang dilakukan oleh Subdit Filariasis dan Kecacingan dengan menjadi tenaga survei pada kegiatan tersebut. Dalam pertemuan penyusunan modul pelatihan ini, pembahasan dititikberatkan pada penyusunan kurikulum dan garis besar pedoman pelatihan (GBPP) pelatihan.
2. Tujuan
Umum:
Tersusunnya kurikulum pelatihan dan GBPP pelatihan kecacingan sebagai pedoman dalam penyusunan modul pelatihan kecacingan.
Khusus:
a. Tersusunnya kurikulum pelatihan kecacingan.
b. Tersusunnya GBPP pelatihan kecacingan.
3. Ruang lingkup
a. Peserta pertemuan adalah instansi yang akan melaksanakan dan telah melaksanakan survei prevalensi kecacingan.
b. Kurikulum pelatihan ini akan diakreditasi oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusi (PPSDM) Kementerian Kesehatan RI.
4. Dasar
a. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan.

B. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pertemuan ini dilaksanakan tanggal 26 Juni 2018 di Ruang B.26 Gedung B lantai 2, Ditjen P2P, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.
2. Peserta Pertemuan
Peserta pertemuan berjumlah 15 orang berasal dari BBTKLPP Jakarta (2 orang), BBLK Jakarta (1 orang), Balitbangkes (1 orang), Departemen Parasitologi FKUI (3 orang), Kepala Seksi Cacingan-Subdit Filariasis dan Kecacingan (Filca) (1 orang), dan staf dari Subdit Filca (7 orang).
3. Pelaksana Kegiatan
Kegiatan pertemuan dilaksanakan oleh Subdit Filca dengan mengundang narasumber yang berasal dari PPSDM Kementerian Kesehatan RI (1 orang).
4. Rincian Kegiatan
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pememparan dari Kepala Seksi Kecacingan mengenai latar belakang penyusunan modul pelatihan kecacingan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari PPSDM Kementerian Kesehatan mengenai draf kurikulum dan GBPP yang telah dibuat pada pertemuan pertama (tanggal 3-4 Mei 2018 di Hotel Aston).
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan pembahasan kurikulum serta GBPP pelatihan. Kegiatan ini diselingi dengan istirahat, makan siang, dan sholat. Kegiatan dilanjutkan hingga pukul 15.00 dan diakhiri dengan penutupan serta penyelesaian administrasi.

C. HASIL YANG DICAPAI
1. Peserta pelatihan akan dilatih menjadi surveyor prevalensi kecacingan di Indonesia.
2. Surveyor ini diharapkan juga mampu melakukan pemeriksaan mikroskopis kecacingan dan pencatatan serta pelaporan kegiatan.
3. Pada kurikulum dan GBPP pelatihan ini telah ditetapkan bahwa metode yang digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis cacingan adalah metode Kato Katz dan pemeriksaan akan dilakukan oleh petugas mikroskopis di fasyankes.
4. Kurikulum pelatihan kecacingan terdiri dari 1 materi dasar, 6 materi inti, dan 3 materi penunjang. Jumlah jam pelajaran (JPL) yang telah disusun berjumlah 60 JPL, hal ini menandakan bahwa pelatihan akan berlangsung selama 8 hari yaitu 6 hari pelatihan efektif dan 2 hari untuk perjalanan peserta pulang dan pergi.
5. Materi pelatihan terdiri dari materi teori, penugasan, praktek, dan praktek lapangan. Rincian pelatihan tersebut adalah materi teori sebanyak 18 JPL, penugasan sebanyak 20 JPL, praktek 5 JPL, dan praktek lapangan sebanyak 17 JPL.
6. Materi pelatihan yang termasuk ke dalam materi dasar adalah materi kebijakan cacingan di Indonesia.
7. Materi pelatihan yang termasuk materi inti, yaitu materi memahami metode survei yang akan dilakukan, melakukan survei prevalensi kecacingan, menerapkan K3, menggunakan mikroskop, melakukan pemeriksaan mikroskopis cacingan, dan melakukan pencatatan dan pelaporan.
8. Materi penunjang terdiri dari building learning commitment (BLC), materi anti korupsi, dan rencana tindak lanjut (RTL).
9. GBPP pelatihan terdiri dari 10 materi, yaitu materi kebijakan cacingan di Indonesia, memahami metode survei yang akan dilakukan, melakukan survei prevalensi kecacingan, menerapkan K3, menggunakan mikroskop, melakukan pemeriksaan mikroskopis cacingan, melakukan pencatatan dan pelaporan, building learning commitment (BLC), materi anti korupsi, dan rencana tindak lanjut (RTL).
10. Masing-masing GBPP terdiri dari tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus, langkah pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan, alat bantu yang digunakan, dan acuan yang digunakan untuk masing-masing materi pelatihan.

E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
a. Telah tersusun kurikulum pelatihan kecacingan dengan jumlah JPL sebanyak 60 JPL. Kurikulum terdiri dari 1 materi dasar, 6 materi inti, dan 3 materi penunjang.
b. Telah tersusun GBPP pelatihan yang terdiri dari tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran khusus, langkah pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan, alat bantu yang digunakan, dan acuan yang digunakan untuk masing-masing materi pelatihan.

F. RENCANA TINDAK LANJUT
Sebagai kelanjutan dari penyusunan modul pelatihan survey prevalensi kecacingan, akan dilaksanakan pertemuan selanjutnya untuk penyusunan modul pelatihan berdasarkan kurikulum dan GBPP yang telah dibuat.

G. PENUTUP
Demikian laporan kegiatan yang dapat kami sampaikan, untuk dapat digunakan sebagai bahan evaluasi program pemberantasan penyakit kecacingan di Indonesia.