PEMETAAN LUAS WILAYAH RESEPTIFITAS DAERAH MALARIA DI KABUPATEN TANGAMUS PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017

Pendahuluan

Malaria adalah penyakit parasit yang terjadi di daerah tropis dan sub tropis. Penyebabnya adalah parasit Plasmodium dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Penyebaran Malaria di dunia sudah sedemikian luas yaitu menjangkau antara garis bujur 60o di utara dan 40o di selatan (Depkes. RI, 2006). Area penularan penyakit malaria meliputi lebih dari 100 negara yang beriklim tropis dan sub tropis. Setiap tahun jumlah kasus Malaria berjumlah 300 sampai dengan 500 juta dan mengakibatkan 1,5 sampai dengan 2,7 juta kematian terutama di Afrika sub Sahara. (Harijanto P.N, 2000). Salah satu Propinsi endemis  Malaria di Indonesia adalah Provinsi Lampung. Annual Malaria incidence (AMI) Provinsi Lampung 6,62‰ (2002) dan 6,92‰ (2003). Hampir semua kabupaten yang ada di Provinsi Lampung merupakan daerah endemis Malaria. Ada lima Kabpaten di Provinsi Lampung yang dikategorikan telah eliminasi malaria, antara lain :  Kabupaten Waykanan, Tulang Bawang, Pringsewu, Tulangbawang Barat, dan Kota Metro. Tujuh Kabupaten di Lampung dikategorikan sebagai daerah endemis rendah malaria dengan kecenderungan kejadian penyakit malaria di tujuh Kabupaten tersebut cenderung menurun dari tahun ke tahun.  (http://lampung.antaranews.com/berita/289919/lima-kabupatenkota-di-lampung-bebas-malaria), Dengan demikian Kabupaten Taggamus mengindikasikan suatu kondisi menuju eliminasi malaria.

Namun demikian untuk mendapatkan predikat eliminasi (bebas) malaria perlu kajian untuk membuktikan bahwa daerah tersebut sudah tidak reseptif malaria. Sampai saat ini belum ada kajian berbasis laboratorium yang membuktikan bahwa Kabupaten Tangamus sudah tidak repseptif malaria. Oleh karena itu sesuai dengan tugas dan fungsi BBTKLPP Jakarta dalam memberikan layanan kepada Kabupaten Tanggamus, memandang perlu melakukan kajian pemetaan luas wilayah reseptifitas malaria di Kabupaten Tanggamus.


 

Tujuan Umum :

Untuk memperoleh data reseptifitas daerah malaria dan faktor risiko penularan malaria berdasarkan parameter bionomic nyamuk Anopheles, pengukuran tingkat kepadatan vektor, uji resistensi vektor terhadap insektisida, konfirmasi vektor , serta survei pengetahuan sikap dan perilaku di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung

Tujuan Khusus :

  • Mengetahui tempat perindukan (breeding place)
  • Mengetahui fauna nyamuk Anopheles Sp.
  • Memperoleh data kepadatan nyamuk Anopheles Sp.
  • Memperoleh data paritas nyamuk
  • Uji resistensi vektor terhadap insektisida
  • Memperoleh data pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat.
  • Melakukan konfirmasi vektor

Ruang Lingkup

Melakukan pemetaan luas wilayah reseptifitas daerah malaria di Kabupaten Tangamus dan uji resistensi vektor terhadap insektisida di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Hasil yang dicapai

Kegiatan ini diintegrasikan dengan uji resistensi vektor terhadap insektisida di Kabupaten Lampung Timur. Hasil kegiatan yang telah dilasanakan adalah sebagai berikut :

Koordinasi dengan stakeholder terkait :

  • Koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi
  • Koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus

Pengamatan Lingkungan dan masyarakat :

  • Terdapat nyamuk Anopheles dalam populasi yang cukup padat (banyak)
  • Tempat perindukan potensial nyamuk Anopheles di Desa Karang Anyar, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung adalah rawa – rawa, parit, bak bekas pengumpul ubur – ubur yang sudah tidak digunakan lagi.
  • Kecamatan Wonosobo berada pada faktor resiko malaria, dengan ditemukannya perindukan (breading places) dan jentik/larva Anopheles sp. dalam jumlah cukup besar.

 

Pengukuran kepadatan nyamuk anopheles;

  • Pengukuran kepadatan dilakukan 2 malam berturut turut,
  • Metoda pengukuran kepadatan mengunakan metoda penangkapan nyamuk dengan umpan badan orang dalam (UOD) rumah dan umpan orang luar (UOL) rumah, masing-masing selama 40 Menit serta pengukuran kepadatan nyamuk istirahat di dinding rumah dan di kandang ternak, masing – masing selama 10 menit.
  • Pengamatan dilakukan per-jam, mulai dari jam 18.00 s/d 6.00
  • Hasil pengamatan selama dua malam berturut-turut di Desa Karang Anyar terdapat 2 spesies nyamuk yaitu nyamuk Anopheles sundaicus dan Anopheles barbirostris, sedangkan nyamuk yang dominan adalah Anopheles sundaicus.

 


 

Survey breading places :

Ditemukan tempat perindukan nyamuk Anopheles berlokasi di pinggir pantai berupa bak-bak  penampungan ubur-ubur yang sudah tidak terpakai.  Bak-bak tersebut menampung air dan banyak ditumbuhi lumut dipermukaannya. Kondisi tersebut merupakan habitat yang sangat disukai oleh nyamuk Anopheles untuk berkembang biak. Hasil pengamatan jentik Anopheles adalah sebagai berikut :

No Desa Tempat

Perindukan

Kepadatan

Jentik

Posisi pada GPS pH Air Salinitas

 

S E
1 Karang Anyar Bak bekas ubur (luas 9 m3) 50 jentik/

cidukan

05 031.487 104 0 32.895 7,0 1,0
Kubangan didalam bak (luas 1m3) 40 jentik/ cidukan 05 031.487 104 0 32.895 7,0 1,0

 

 

 

 

 


 

Hasil uji resistensi vektor terhadap insektisida di Kabupaten Tanggamus :

  1. Hasil uji insektisida berbahan aktif permetrine dan deltamertrine terhadap nyamuk Anopheles sundaicus hasil koleksi (berasal) dari Desa Karang Anyar menujukkan bahwa bahan aktif tersebut masih efektif digunakan dalam pengendalian populasi vektor di Kabupaten Tanggamus. Tingkat kematian nyamuk sebesar 100%.
  2. Hasil uji insektisida berbahan aktif permetrine dan deltamertrine terhadap nyamuk Anopheles subpictus hasil koleksi (berasal) dari Desa Margasari menunjukkan bahwa bahan aktif tersebut masih efektif digunakan dalam pengendalian populasi vektor di Kabupaten Lampung Timur. Tingkat kematian nyamuk terhadap permetrin sebesar 100%, sedangkan tingkat kematian nyamuk terhadap 96%.

Konfirmasi Vektor :

Konfirmasi vektor untuk memastikan keberadaan vektor di kedua Kabupaten tersebut akan dilakukan di laboratorium BBTKLPP Jakarta. Hasilnya menjadi landasan kuat untuk menyatakan apakah kedua Kabupaten tersebut masih reseptif atau tidak terhadap penyakit malaria.

Kesimpulan

  • Nyamuk dominan adalah Anopheles sundaicus, dengan puncak kepadatan metoda umpan orang dalam pada jam 2.00-3.00 wib sedangkan pada metoda umpan orang luar pada jam 4.00-5.00 dan jam 5.00-6.00 wib.
  • Populasi nyamuk Anopheles cukup besar.
  • Terdapat breeding place potensial sebagai perindukan nyamuk Anopheles.
  • Insektisida berbahan aktif permetrin dan deltametrin masih efektif digunakan untuk mengendalikan vektor malaria di Kabupaten Tanggamus

Saran

  • Mendorong masyarakat untuk berperan aktif melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk baik secara individual maupun gotong royong
  • Masyarakat perlu mendapatkan penyuluhan (edukasi) secara berkesinambungan tentang penyakit malaria dan faktor trisiko penularannya
  • Mendorong masyarakat untuk mengeringkan bak-bak bekas penampung ubur-ubur untuk menghilangkan breeding places potensil vektor malaria.
  • Mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menghindari (mencegah) gigitan nyamuk, diantaranya tidur menggunakan kelambu, menggunakan baju lengan panjang untuk mengggurangi gigitan nyamuk, memasang kasa nyamuk pada ventilasi rumah dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *