Pelatihan Orientasi Petugas Laboratorium Pengambilan dan Pemeriksaan Spesimen Difteri

Surabaya, 24 – 27 April 2018

A. PENDAHULUAN

  1. Umum

Difteri adalah salah satu penyakit yang sangat menular, dapat dicegah dengan imunisasi, dan disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diptheriae strain toksin. Penyakit ini ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput mukosa faring, laring, tonsil, hidung dan juga pada kulit.

Manusia adalah satu-satunya reservoir Corynebacterium diptheriae. Penularan terjadi secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontak langsung dari lesi di kulit. Penyakit Difteri tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2014, tercatat sebanyak 7347 kasus dan 7217 kasus di antaranya (98%) berasal dari negara-negara anggota WHO South East Asian Region (SEAR).

Jumlah kasus Difteri di Indonesia sedikit meningkat pada tahun 2016 jika dibandingkan dengan tahun 2015 (529 kasus pada tahun 2015 dan 591 pada tahun 2016). Demikian pula jumlah Kabupaten/Kota yang terdampak pada tahun 2016 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan jumlah Kabupaten/Kota pada tahun 2015. Tahun 2015 sebanyak 89 Kabupaten/ Kota dan pada tahun 2016 menjadi 100 Kabupaten/ Kota.

Dalam rangka peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional diperlukan orientasi bagi petugas laboratorium pada pemeriksaan Difteri  yang lebih khusus. Peranan Laboratorium sangat diperlukan untuk mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium yang cepat dan akurat. Maka dari itu diperlukan kemampuan kapasitas tenaga laboratorium yang kompeten..

Laboratorium yang baik (Good Laboratory Practice/GLP),  dipandang sebagai lingkaran informasi yang menggambarkan konsep laboratorium yang diperluas. Untuk mendukung informasi tersebut sangat perlu dilakukan peningkatan SDM baik formal maupun non formal berupa pelatihan internal maupun eksternal.

 

  1. Tujuan

Tujuan Umum

Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia tenaga laboratorium untuk  pemeriksaan Difteri secara uji kultur difteri dan uji toksikogenitas (Elek Test).

 

Tujuan Khusus

Peserta pelatihan mampu;

  1. Mampu melakukan pengambilan dan penanganan specimen difteri
  2. Mampu melakukan pengemasan isolat ke laboratorium rujukan
  3. Mampu melakukan pembuatan media difteri
  4. Mampu melakukan penanaman media
  5. Mampu melakukan uji kultur difteri
  6. Mampu melakukan uji toksikogenitas (Elek Test)
  7. Mampu melakukan interpretasi hasil (identifikasi dan toksigenitas

 

B. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN

  1. Peserta Pertemuan
  1. Peserta pelatihan petugas Instalasi Laboratorium B/BTKLPP sebanyak 14 orang, berasal dari B/BTKLPP Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Banjarbaru, Palembang, Batam, Makasar.
  2. Tim teknis subdit surveilans

 

  1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu     : 24 – 27 April 2018

Tempat : BBLK Surabaya

 

  1. Pelaksana Pelatihan

Pelaksanaan pelatihan dilakukan di BBLK Surabaya, untuk kelas teori di ruang kuliah sedangkan praktek di Laboratorium media reagensia dan Mikrobiologi.

Materi pelatihan meliputi :

  • Pengambilan dan pemeriksaan sampel difteri.
  • Cara pembuatan reagensia,
  • pemeriksaan sampel secara Kultur Difteri
  • Uji Toksigenitas (Elek Tes)

 

  1. Rincian Kegiatan Pelatihan

Selasa, 24 Agustus 2017

Hari pertama pelatihan bertempat di BBLK Surabaya diawali dengan pre-Tes dan pembukaan acara oleh Ka Subdit Surveilans dr. Nancy Dian Anggraeni.. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi yaitu :

  • Kebijakan Surveilans Dalam Penguatan Jejaring Laboratorium oleh dr. Nancy dari Subdit Surveilens. Pada materi tersebut disampaikan tentang  dasar hukum imunisasi dan penyelenggaraan surveilans, target pengendalian PD3I, kebijakan surveilans difteri serta strategi pencegahan dan pengendalian
  • Klinis difteri oleh Prof Ismoedijanto, Pada materi tersebut disampaikan penyebab, cara penularan serta gejala klinis, diagnostik Laboratorium difteri.

 

Rabu, 25 Agustus 2018

Hari kedua kegiatan pelatihan dilaksanakan narasumber dari  BBLK Surabaya  dengan rincian kegiatan sebagai berikut :

  • Biosafety laboratorium difteri
  • Teori dan praktek pengambilan dan penanganan spesimen difteri  : cara pengambilan sampel usap tenggorok, usap hidung dan  usap kulit, penyimpanan dan pengemasan sampel.
  • Teori dan praktek pembuatan media difteri : Hoyle dan Columbia agar
  • Penanaman sampel ke media Hoyle dan Columbia
  • Praktek: Pembuatan media gula-gula
  • Praktek identifikasi diphteriae

 

Kamis, 26 Agustus 2018

Hari ketiga kegiatan pelatihan narasumber dari  BBLK Surabaya  dengan rincian kegiatan sebagai berikut :

  • Teori Kultur dan identifikasi C. diphteriae
  • Teori Pemantapan mutu laboratorium difteri
  • Teori dan praktek pembuatan media screening test  : Pyrazinamide, urea, nitrat, Cystinase
  • Praktek pengecatan koloni dengan pewaraan gram dan  sub kultur
  • Praktek pengemasan isolate ke lab rujukan
  • Praktek uji toksigenitas “ Elek Test “

 

Jumat, 27 April 2018

Hari keempat  kegiatan pelatihan narasumber dari  BBLK Surabaya  dengan rincian kegiatan sebagai berikut :

  • Interpretasi hasil identifikasi C. diphteriae
  • Praktek dan interprestasi hasil uji toksigenitas “ Elek Test “
  • Post test
  • Rencana Tindak Lanjut (RTL)

C. KESIMPULAN DAN SARAN

  • Pelatihan pengambilan dan pemeriksaan spesimen Difteri berjalan dengan lancar sampai hari terakhir diikuti oleh 14 peserta dari 7 B/BTKLPP
  • Setiap B/BTKLPP peserta pelatihan harus siap melakukan pengambilan dan pemeriksaan spesimen Difteri secara mandiri.
  • Pemeriksaan ELEK TEST dilakukan di Laboratorium Rujukan Nasional Litbangkes dan BBLK Surabaya.

 D. RENCANA TINDAK LANJUT

 

Pusat

  • Membentuk SK jejaring laboratorium difteri
  • Membuat surat permohonan dukungan validasi pemeriksaan spesimen difteri ditujukan ke Laboratorium Rujukan Nasional (BBLK Surabaya dan PBTDK Litbangkes)
  • Membuat surat untuk melakukan validasi pemeriksaan spesimen difteri ditujukan ke laboratorium B/BTKL-PP yang telah mengikuti orientasi
  • Membuat surat hasil kesepakatan orientasi ditujukan ke laboratorium B/BTKL-PP yang telah mengikuti orientasi
  • Melakukan supervisi dan evaluasi untuk penilaian pemeriksaan difteri di laboratorium B/BTKL-PP bersama dengan Laboratorium Rujukan Nasional sebelum menerima uji validasi spesimen difteri.

 

B/BTKL-PP

  • Memastikan petugas laboratorium yang telah mengikuti orientasi tidak dipindahtugaskan minimal 2 tahun.
  • Memastikan petugas laboratorium untuk pengambilan dan pemeriksaan spesimen Difteri telah menerima imunisasi Difteri lengkap (3 Dosis ) dan wajib dilakukan uji titer anti toksin untuk mengetahui apakah petugas tersebut sudah berproteksi atau tidak.
  • Mensosialisasikan hasil orientasi di B/BTKLPP masing-masing kepada pimpinan dan petugas lain yang terkait.
  • B/BTKLPP tetap melakukan latihan pengambilan dan pemeriksaan spesimen Difteri secara regular, dengan cara sebagai berikut :
  1. Apabila belum menerima kasus Difteri atau jumlah spesimen difteri yang diterima < 5 spesimen maka Lab Rujukan Nasional akan mengirimkan 5 isolat per bulan secara reguler dalam minimal 6 bulan untuk digunakan sebagai latihan untuk pemeriksaan spesimen.
  2. Apabila spesimen kasus Difteri yang diterima > 5 spesimen maka spesimen Difteri yang diambil akan dikirimkan juga ke Laboratorium Rujukan Nasional untuk dilakukan validasi hasil pemeriksaan.
  • Evaluasi hasil validasi pemeriksaan Difteri akan dilakukan selama minimal 6 bulan dimulai sejak kesiapan sarana prasarana laboratorium masing – masing.
  • Apabila hasil evaluasi pemeriksaan spesimen telah mencapai validasi >90% dengan jumlah pemeriksaan minimal 5 spesimen/ bulan, maka laboratorium telah mampu melakukan pemeriksaan spesimen Difteri secara mandiri.
  • Pemeriksaan ELEK TEST dapat dilakukan di laboratorium B/BTKLPP apababila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  1. Memiliki sarana dan prasarana pendukung keamanan dalam melakukan pemeriksaan ( antara lain BSC class II, Freezer – 700C dll)
  2. Memiliki SDM yang kompeten dan telaten berdasar hasil supervisi laboratorium Rujukan Nasional.
  3. Mampu memelihara kuman kontrol baik yang toksigenik maupun non toksigenik berdasar hasil supervisi dari Laboratorium rujukan Nasional.
  • Berkoordinasi dengan Dinas Propinsi setempat agar B/BTKLPP menjadi bagian dari jejaring pengendalian KLB Difteri dengan melibatkan peran dari para klinisi, petugas surveilans dan imunisasi serta Laboratorium.
  • Membuat perencanaan dan pengadaan reagen, logistik lainnya untuk pengambilan dan pemeriksaan spesimen Difteri.
  • Membuat MOU dengan Laboratorium Rujukan Nasional terkait media yang sudah terkontrol untuk pemeriksaan Difteri.
  • Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk anggaran pengiriman baik untuk spesimen maupun pengiriman balik spesimen karier.
  • Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di wilayah kerja masing – masing apabila terdapat kasus Difteri.

 

BBLK  SURABAYA

  • Bersama dengan Subdit Surveilens, melakukan supervisi dan evaluasi untuk penilaian pemeriksaan pre assesment terkait dengan kesiapan laboratorium B/BTKLPP sebelum menerima uji validasi spesimen Difteri
  • Melakukan validasi pemeriksaan spesimen Difteri yang dilakukan ileh Laboratorium B/BTKLPP pesrta orientasi.
  • Memberikan konsultasi terkait pengambilan dan pemeriksaan spesimen difteri (Bila diperlukan)
  • Membuat penawaran paket media pemeriksaan Difteri (bila diperlukan)

 

INSTALASI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

  • Membuat perencanaan pengadaan reagen, logistik serta sarana prasarana lainnya untuk pengambilan dan pemeriksaan spesimen Difteri.
  • Membuat usulan permohonan kepada Ka. BBTKLPP Jakarta untuk dilakukan uji titer anti toksin terhadap staf di Instalasi Lab. Mikrobiologi. (Pemeriksaan di uji titer anti toksin dapat dilakukan di BBLK Surabaya dengan biaya Rp 500.000,00 / orang, sampel berupa serum)
  • Bersama instalasi Diklat merencanakan untuk mensosialisasikan hasil orientasi kepada pimpinan dan petugas lain yang terkait di BBTKLPP Jakarta.