Anda Memasuki Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani .:: || ::.

KEGIATAN PELATIHAN/ORIENTASI BIOSAFETY CABINET B/BTKLPP DAN BBLK DI BBTKLPP JAKARTA, TANGGAL 14-15 FEBRUARI 2019

B/BTKLPP saat ini sedang memperkuat kapasitas sumber daya, sarana dan prasarana dan kemampuan pemeriksaan laboratorium untuk menjadi “Regional Public Health Laboratory” (PHL). Dengan demikian laboratorium B/BTKLPP dituntut untuk mampu dalam pelayanan public, surveilans faktor resiko dan penyakit, serta merespon kejadian penyakit dengan cepat dan tepat, seperti yang terjadi saat ini merebaknya penyakit, difteri, DBD dan Chikungunya, Hepatitis A dan sebagainya.

Pelaksanaan laboratorium yang baik harus diimbangi dengan keselamatan laboratorium benar secara internal maupun eksternal di lingkungan masyarakat. Penilaian risiko (risk assessment) penting dilakukan pada sebuah laboratorium konfirmasi penyakit, antara lain : laboratorium mikrobiologi, Biomolekuler atau laboratorium kesehatan lainnya, untuk meningkatkan keselamatan petugas laboratorium, khususnya lingkungan internal/external dan masyarakat sekitar. Salah satu peralatan laboratorium yang berpotensi menimbulkan risiko terhadap keselamatan di laboratorium adalah tidak berfungsinya sistem perlindungan di dalam laboratorium oleh Bio Safety Cabinet (BSC). Oleh karena itu pentingnya petugas laboratorium memahami dan mengenal BSC lebih mendalam, sehingga dapat mendukung kinerja laboratorium dan dapat bekerja dengan nyaman dan aman.

BBTKLPP Jakarta berkolaborasi dengan Pusat Penelitian BTDK Balitbangkes, dan CDC Indonesia. memfasilitasi peningkatan SDM teknis B/BTKLPP dan BBLK dalam bentuk “Pelatihan/Orientasi BSC”, yang dilaksanakan pada tanggal 14, 15 Februari di Kantor BBTKLPP Jakarta. Bertujuan memberikan pemahaman, penggunaan, pengelolaaan dan sertifikasi Bio Safety Cabinet bagi tenaga teknis laboratorium B/BTKLPP dan BBLK, dengan tujuan: terkelolanya fasilitas keselamatan laboratorium (BSC), diperolehnya kompetensi petugas laboratorium dalam bidang biohazard/biosafety Cabinet dan pemenuhan aspek biosafety & biosecurity dalam penilaian Joint External Evaluation Tool.

Metodologi orientasi BSC dilaksanakan dengan cara paparan materi, diskusi dan demo dan praktek sertifikasi BSC di Laboratorium, dengan materi sbb

  1. Essential biosafety and infection control in laboratory
  2. Workshop on “How to wash hand correctly”
  3. N95 respiratory Fit test
  4. Biosafety cabinet and its application in public health laboratory
  5. Biosafety cabinet and its application in public health laboratory
  6. BSC certification

Kegiatan ini diawali dengan persiapan secara matang terkait ruangan pelatihan, peralatan untuk demo BSC, tangga untuk mengontrol bagian atap BSC, ruangan gelap untuk melihat fase kontras dengan alat ultra violet terhadap hasil peserta latih dalam pelaksanaan cuci tangan dengan benar. Pelaksnaan demo/praktek dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing 8 orang anggota. Waktu demo hanya 45 menit, diperkirakan pelaksanaan demo hanya 15 menit perkelompok.
Pelaksanaan pelatihan dibuka oleh Kepala BBTKLPP Jakarta, dan di tutup oleh Direktur Surveilan dan Karantina Kesehatan, telah diwakili oleh Kepala Sub. Direktorat Surveilans oleh drh. Endang Burni P. Hasil evaluasi kegiatan Pelatihan/orientasi BSC menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan bagus, menambah pengetahuan, menambah wawasan bagi petugas laboratorium, keiingintahuan peserta cukup baik, materi bagus, hand outnya telah disiapkan secara matang, mengetahui cara membersihkan/memelihara BSC dengan benar, rekomendasi laminar dan BSC, penting tidaknya penggunaan UV dan penggunaan control mutu di BSC. Namun masih diperoleh hambatan/masalah yang perlu ditingkatkan/diperbaiki untuk pelaksanaan pelatihan kedepan, yaitu : 1. Materi bagus sekali, sayang tidak ada pre test dan post test, sebagai bahan untuk evaluasi peserta latih, karena materi padat dan waktu terbatas. 2. Kemampuan bahasa Inggris bagi sebagian peserta latih masih kurang, sehingga perlu translater yang aktif, walaupun fasilitator menggunakan bahasa Inggris. 3. Adanya waktu kosong panitia tidak stand by ditempat, seharusnya ada yang piket. Kami menyadari bahwa panitia terbatas, sehingga harus mondar-mandir melaksanakan tugas lainnya. 4. Peserta latih berasal dari 10 B/BTKLPP dan 3 BBLK, untuk saling kenal sebaiknya peserta latih difasilitasi name tag.
Hasil kegiatan disimpulkan bahwa pelatihan/orientasi Bio Safety Cabinet B/BTKLPP dan BBLK dengan fasilitator dari CDC Thailand dan Pusat Penelitian BTDK Balitbangkes, yang diikuti oleh 10 B/BTKLPP dan 3 BBLK (Makasar, Surabaya dan Jakarta).

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama dengan BBTKLPP Jakarta, CDC Indonesia dan Pusat Penelitian BTDK Balitbangkes. Ada beberapa hal yang harus ditindaklanjuti yaitu

1. Peserta latih sebagian besar berasal dari teknis Laboratorium, alangkah baiknya peserta juga berasal dari Instalasi Sarana Prasarana, karena terkait dengan pemeliharaan peralatan laboratorium.

 

2. Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap peserta latih atas manfaat dari pelaksanaan pelatihan/orientasi Bio Safety Cabinet di masing-masing Laboratorium.

 

3. Perlu fasilitasi segera : Tempat sampah infeksius, bahan berbahaya, dan sampah domestik, alat tambahan untuk maintenance BSC, smoke generator untuk mendeteksi kinerja airflow BSC.

 

4. Perlu Sosialisasi dan pemantauan Laboratorium secara rutin : Penggunaan APD (Masker N 95) untuk petugas Laboratorium dengan benar, dan Instalasi K3 segera membuat jadwal Fit test N 95 untuk setiap Laboratorium dan simulasi cuci tangan dengan benar bagi petugas Laboratorium.

 

5. Melayangkan surat kepada Mr. Anek, untuk meminta rekomendasi tentang tata letak BSC type B2 yang benar.

Contoh sertifikat BSC : NSF F.12.2

Contoh sertifikat BSC : NSF F.12.2
Contoh sertifikat BSC : NSF F.12.2