KEGIATAN PELATIHAN MIKROSKOPIS MALARIA TINGKAT PROPINSI BENGKULU

27-30 Juni 2018

A. PENDAHULUAN
1. Umum
Malaria adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini berdampak pada penurunan kualitas sumberdaya manusia dan berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu hamil/melahirkan, bayi dan balita.
Unluk mengeliminasi malaria sesuai kesepakalan global dan regional, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 293/MENKES/SK/IV/2009 tentang eliminasi malaria yang akan di capai secara bertahap selambat-lambatnya tahun 2030. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 elminasi malaria ditetapkan sebagai salah satu sasaran utama dan lndikator Kinerja Program (lKP) dari program pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
Salah satu kebijakan dalam mencapai eliminasi adalah semua penderita klinis yang ditemukan harus didiagnosis melalui pemeriksaan mikroskopis. Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang belum memiliki kemampuan pemeriksaan mikroskopis dilakukan melalui diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT), dan pada daerah elminasi diagnosis malaria ditegakkan dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reactor/PCR dengan demikian maka tidak ada lagi pengobatan malaria tanpa konfrmasi pemeriksaan laboratorum guna mencegah terjadinya resistensi obat anti malaria.
Secara nasional kasus malaria selama tahun 2010-2015 cenderung menurun yaitu pada tahun 2010 angka API sebesar 1,96 per 1000, sampai dengan pertengahan 2015 menjadi 0,82 per 1000 penduduk dengan jumlah kasus 209.413. Dari jumlah tersebut sebanyak 81% berasal dari Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan NTT.
Kualitas pelayanan laboratorium malaria sangat diperlukan dalam menegakkan diagnosis dan sangat tergantung pada kompetensi dan kinerja petugas laboratorium di setiap jenjang fasilitas pelayanan kesehatan. Penguatan laboratorium pemeriksaan malaria yang berkualitas dilakukan melalui pengembangan jejaring dan pemantapan mutu laboratorium pemeriksa malaria mulai dari tingkat pelayanan seperti laboratorium puskesmas, rumah sakit serta laboratorium kesehatan swasta sampai ke laboratorium rujukan uji silang di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Peningkatan penguatan diagnosis laboratorium berupa kegiatan pelatihan tenaga mikroskopis malaria bagi tenaga puskesmas malaria di seluruh kabupaten yang ada di Propinsi Bengkulu merupakan salah satu faktor yang penting dalam memperbaiki mutu pemeriksaan laboratorium malaria di Propinsi Bengkulu, karena dapat mengurangi kesalahan diagnosis.
2. Tujuan
Umum:
Tersedianya petugas laboratorium yang terampil dalam pemeriksaan sediaan darah malaria.
Khusus:
a. Peserta memahami program malaria.
b. Peserta mampu menggunakan dan memelihara mikroskop dengan baik.
c. Peserta mampu membuat sediaan darah malaria sesuai standar.
d. Peserta mampu mewarnai sediaan darah malaria sesuai standar.
e. Peserta mampu melakukan pemeriksaan sediaan darah malaria sesuai standar.
f. Peserta mampu melakukan pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan laboratorium malaria.
g. Peserta mampu melakukan pemantapan mutu laboratorium malaria.
h. Peserta mampu melakukan keselamatan dan keamanan kerja laboratorium malaria.
3. Ruang lingkup
a. Peserta adalah mikroskopis malaria yang bertugas di puskesmas dan rumah sakit umum daerah (RSUD) yang ada di 19 kabupaten di Propinsi Bengkulu.
b. Materi yang disampaikan adalah materi yang berhubungan dengan malaria dan diagnosa malaria secara laboratorium.
4. Dasar
a. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
b. Keputusan Menteri Kesehatan No. 293/MENKES/SK/IV/2009 tentang Eliminasi Malaria.
B. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pelatihan ini dilaksanakan tanggal 27 hingga 30 Juni 2018 di Hotel Latansa, Propinsi Bengkulu.
2. Peserta Pelatihan
Peserta pelatihan berjumlah 20 orang berasal dari 17 puskesmas dan 2 rumah sakit umum daerah (RSUD) yang ada di Provinsi Bengkulu, yaitu Puskesmas Pagar Jati (1 orang), Puskesmas Lubuk (1 orang), Puskesmas Bukit Sari (1 orang), Puskesmas Kepala Curup (1 orang), Puskesmas Tanjung Agung (1 orang), Puskesmas Tumbuan (1 orang), Puskesmas Sukamerindu (1 orang), Puskesmas Lubuk Durian (1 orang), Puskesmas Ketahun (1 orang), Puskesmas Kalam Tengah (1 orang), Puskesmas Muara Nasal (1 orang), Puskesmas Ratu Agung (2 orang), Puskesmas Beringin Raya (1 orang), Puskesmas Retak Mudik (1 orang), Puskesmas Air Rami (1 orang), Puskesmas Tes (1 orang), Puskesmas Rimbo Pengadang (1 orang), RSUD Kepahiang (1 orang), dan RSUD HD Manna (2 orang).
3. Pelaksana Kegiatan
Kegiatan pelatihan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. Dalam pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mengundang narasumber dan fasilitator yang berasal dari Subdit Malaria Kementerian Kesehatan RI (1 orang), BBTKLPP Jakarta (1 orang), dan BLK Propinsi Bengkulu (1 orang).
4. Rincian Kegiatan
Dalam pelaksanaan kegiatan, narasumber dari Subdit Malaria Kementerian Kesehatan RI bergantian dengan narasumber dari BBTKLLPP Jakarta. Narasumber dari Subdit Malaria Kementerian Kesehatan RI menyampaikan materi selama 3 hari yaitu tanggal 26-28 Juni 2018, sedangkan narasumber dari BBTKLPP Jakarta menyampaikan materi tanggal 27-30 Juni 2018.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan mulai tanggal 25 Juni hingga 1 Juli 2018. Kegiatan diawali dengan registrasi dan pre tes. Esoknya, tanggal 26 Juni 2018, kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu dilanjutkan dengan penyampaian materi kebijakan nasional pengendalian malaria, materi gambaran umum malaria, materi penggunaan dan perawatan mikroskop. Tanggal 27 Juni 2018, kegiatan dilanjutkan dengan menyampaikan materi keselamatan dan keamanan kerja laboratorium, materi pembuatan sediaan darah malaria, dan materi pewarnaan sediaan darah malaria.
Tanggal 28 Juni 2018, kegiatan yang dilakukan adalah membuat dan mewarnai sediaan darah malaria. Peserta pelatihan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok 1 dan kelompok 2. Masing-masing kelompok melakukan pewarnaan dengan Giemsa 3% dan Giemsa 10%. Ketika peserta menunggu pewarnaan selesai, narasumber menyampaikan materi morfologi malaria dan identifikasi sediaan malaria. Setelah pewarnaan selesai, peserta membilas dan mengeringkan sediaan darah kemudian melakukan pengamatan sediaan dengan membandingkan kedua pewarnaan tersebut. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek identifikasi sediaan malaria dengan cara melihat sediaan malaria standar dan penyampaian materi pemantapan mutu laboratorium malaria.
Tanggal 29 Juni 2018, peserta melanjutkan kegiatan dengan praktek pembacaan sediaan darah malaria. Keesokan harinya, 30 Juni 2018, agenda evaluasi pembacaan sediaan darah malaria. Pada kegiatan evaluasi ini peserta diminta untuk membaca 20 sediaan darah malaria untuk mengidentifikasi jenis parasit malaria. Kegiatan berakhir pukul 16.00. Kegiatan yang dilakukan pada hari terakhir, tanggal 30 Juni 2018 adalah rencana tindak lanjut (RTL), post tes, penutupan, dan penyelesaian administrasi.

C. HASIL YANG DICAPAI
1. Peserta telah mengetahui dan memahami materi-materi mengenai malaria.
2. Berdasarkan hasil pre tes dan post tes terdapat peningkatan kemampuan peserta dalam memahami materi mengenai malaria. Nilai terendah peserta pada hasil pre tes adalah 44 dan nilai tertinggi adalah 71 dengan nilai rata-rata 56, sedangkan nilai terendah pada hasil post tes adalah 76 dan nilai tertinggi adalah 95 dengan nilai rata-rata 87. Berdasarkan hasil tersebut terdapat peningkatan dengan nilai rata-rata sebesar 30.
3. Dalam pembacaan sediaan darah malaria, terdapat 4 komponen penilaian, yaitu sensitifitas, spesifisitas, akurasi spesies, dan hitung jumlah parasit. Komponen penilaian tersebut berdasarkan standar penilaian dari World Health Organization (WHO), sebagai berikut:
Tingkat kemampuan Sensitifitas Spesifisitas Akurasi Spesies Hitung Parasit
Tingkat 1 (Expert) ≥90%-100% ≥90%-100% ≥90%-100% ≥50%
Tingkat 2 (Refference) 80%-<90% 80%-<90% 80%-<90% 40%-<50% Tingkat 3 (Advanced) 70%- <80% 70%- <80% 70%- <80% 30%- <40% Tingkat 4 (Basic) <70% <70% <70% <30% Sumber: WHO 2006-2009. Sensitifitas : Kemampuan mendeteksi sediaan darah positif. Spesifisitas : Kemampuan mendeteksi sediaan darah negatif. Akurasi spesies : Ketepatan mendeteksi spesies sediaan darah positif. Hitung parasit : Kemampuan menghitung kepadatan parasit per uL darah. 4. Pada evaluasi identifikasi sediaan malaria, penilaian hanya didasarkan pada tiga komponen penilaian, yaitu sensitifitas, spesifisitas, akurasi spesies, dan hitung jumlah parasit. Berdasarkan penilaian tersebut nilai rata-rata sensitifitas peserta adalah 81 dengan nilai terendah 36 dan nilai tertinggi 100. Untuk penilaian spesifisitas diperoleh hasil rata-rata 69 dengan nilai terendah 0 dan tertinggi 100, sedangkan hasil pembacaan akurasi spesies diperoleh hasil rata-rata 41 dengan nilai terendah 9 dan tertinggi 75. Dalam penilaian hitung jumlah parasit diperoleh hasil rata-rata 36 dengan nilai terendah 0 dan nilai tertinggi 50. E. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Berdasarkan nilai pre tes dan post tes terdapat peningkatan pengetahuan dan kemampuan peserta dalam melakukan pemeriksaan malaria. Sehingga peserta dapat melakukan pemeriksaan malaria dengan lebih baik lagi sesuai standar di instansi mereka masing-masing. b. Berdasarkan hasil evaluasi identifikasi jenis dan stadium parasit malaria, terdapat 1 orang peserta dengan level 3 (advanced). 2. Saran a. Perlu dilakukan pembinaan terhadap peserta melalui kegiatan supervisi, panel testing, uji silang, bimbingan teknis atau on the job training untuk mengasah kemampuan peserta dalam melakukan pemeriksaan malaria. b. Pelaksanaan peningkatan penguatan diagnosis laboratorium malaria bagi petugas puskesmas perlu dilaksanakan dengan waktu yang lebih lama agar peserta semakin memahami parasit malaria. F. PENUTUP Demikian laporan kegiatan yang dapat kami sampaikan, untuk dapat digunakan sebagai bahan evaluasi program pemberantasan penyakit malaria di Indonesia.